Monday, 18 March 2013

perkembangan pr di indonesia

Perkembangan Public Relations di Indonesia



Public relations atau hubungan masyarakat (Humas) secara kelembagaan diakui dengan berdirinya Bakohumas (Badan Koordinasi Humas Pemerintah) pada 13 Maret 1971. Secara yuridis formal, Bakohumas didirikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 31/KEP/MENPEN/1971. Lahirnya SK Menpen dalam rangka Pembentukan Bakohumas yang merupakan kelanjutan dari hasil musyawarah antar Humas-Humas Departemen/Lembaga Negara pada tanggal 6 Desember 1967.

Musyawarah tersebut antara lain menyepakati, bahwa :
"Untuk memperoleh daya guna dan tepat operasi penerangan setinggi-tingginya, maka dipandang perlu untuk membentuk suatu badan yang bertugas mengkoordinir, mengintegrasikan dan mensinkronisasikan kegiatan Humas-Humas pemerintah.”
Musyawarah ini menyetujui diadakannya koordinasi antar Humas Departemen/Lembaga Negara, disingkat Bakor, yang dikoordinasikan oleh Deppen. Kemudian pada pertemuan pleno Bakor pada tanggal 1 Juli 1970, untuk membicarakan peningkatan dan efektivitasnya wadah ini, diperoleh kata sepakat untuk merubah Bakor menjadi Bakohumas (Badan Koordinasi Humas Pemerintah).

Dalam perkembangan selanjutnya lahirlah SK Menteri Penerangan tersebut diatas yang beberapa pasalnya antara lain berbunyi :
Pasal 1 : Perihal Kedudukan
1.    Ditingkat Pemerintah Pusat dibentuk Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah disingkat Bakohumas.
2.    Bakohumas Pusat berkedudukan di Departemen Penerangan.
3.    Keanggotaan Bakohumas terdiri dari Humas-Humas (Lembaga-Lembaga Pemerintah Negara/Non Departemen) pada tingkat Pemerintah Pusat yang diwakili oleh satu orang atau lebih.

Adapun tugas Bakohumas ini adalah :
1.    Membantu Menteri Penerangan dalam menetapkan kebijaksanaan pembinaan hubungan yang lancar dan harmonis antara masyarakat dan pemerintah.
2.    Mengadakan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan kerjasama antara Humas Departemen/Lembaga Negara.
3.    Merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah.

Perkembangan Humas Pemerintah di Indonesia cukup pesat dengan tiga faktor yang melatarbelakanginya: 1) cepatnya kemajuan teknologi; 2) pertumbuhan ekonomi; 3) hausnya masyarakat akan informasi yang akurat. Hal ini sejalan dengan tugas Bakohumas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi No. 03A/SK/MENEG/I/2002 tentang Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah, yaitu:
1.    Membantu Pemerintah dalam melancarkan arus informasi antar lembaga pemerintah dan antar pemerintah dengan masyarakat.
2.    Mengadakan koordinasi dan kerjasama antar Humas Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Lembaga Tertinggi dan Lembaga Tinggi Negara serta BUMN.
3.    Merencanakan dan melaksanakan kegiatan kehumasan.

Bakohumas mempunyai kegiatan antara lain, sebagai berikut:
1.    Ikut serta dalam berbagai kegiatan Pemerintah, khususnya di bidang layanan informasi.
2.    Melakukan pembinaan dan pengembangan profesi kehumasan.
3.    Meningkatkan fungsi dan kedudukan Humas dalam rangka menunjang kebijakan Pemerintah.
4.    Memelihara hubungan kerjasama yang baik dan menciptakan hubungan yang efektif dan harmonis dengan organisasi dan lembaga resmi serta masyarakat.

Selanjutnya, lembaga pertama di Indonesia yang menghimpun para praktisi Humas (individual) adalah Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat). Berdirinya Perhumas didasari cita-cita akan adanya sebuah forum profesi kehumasan di Indonesia. Gagasan tersebut semakin menguat ketika salah seorang praktisi Humas, Marah Joenoes menghadiri World Public Relations Congress ke-6 di Jenewa. Akhirnya setelah melalui berbagai diskusi, pada tanggal 15 Desember 1972 secara resmi didirikanlah Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia yang disingkat Perhumas sebagai organisasi profesi kehumasan di Indonesia. Para pendiri Perhumas, antara lain, adalah: M. Alwi Dahlan, Ph.D, Arifin Pasaribu, Augusto Thomas Graciano, D. Tahitoe, SH, Drs. Feisal Tamin, Drs. R.M. Hadjiwibowo, Kolonel Drs. Hoedioro, Mayor Drs. I Made Arisandi, R. Imam Sajono, Drs. Mahiddin, Marah Joenoes, Moestafa Kemal, Mohammad Jahja Daeng Nompo, Mohammad Ridwan, Nana Sutresna, MA, Roy Tjia Hen An, S.D. Pontoh, SH, Drs. Soemadi, Brigadir Jenderal Soemrahadi, Ir. Wardiman Djojonegoro, dan Wisaksono Noeradi (http://www.perhumas.or.id).

Perhumas dibentuk dengan tujuan meningkatkan keterampilan profesional Humas, memperluas dan memperdalam pengetahuan teknis Humas, dan sebagai wahana pertemuan para praktisi Humas.


Sunday, 17 March 2013

TEOKOM

MACAM TEORI KOMUNIKASI


  1. Teori Behavioral dan Cognitive Teori Konvensional dan Interaksional Teori Kritisdan Interpretatif teori-teori behavioral dan cognitif Menurut Bungin (2006:250) Teori-teori kritis dan interpretatif ini populer juga merupakan gabungan dari dua mengatakan bahwa kehidupan sosial di negara-negara eropa kemudia melahirkan tradisi yang berbeda. Perbedaan utama merupakan suatu proses interaksi yang teori dan pendekatan baru dalam komunikasi teori antara aliran behavioral dan membangun, memelihara serta seperti sosiologi komunikasi, hukum kognitif dengan aliran struktural dan mengubah kebiasaan –kebiasaan komunikasi dan hukum media, komunikasi fungsional terletak pada fokus tertentu, termasuk bahasa dan simbol- antar budaya, komunikasi politik, komunikasi pegamatan serta sejarahnya. Teori simbol. Komunikasi, berdasarkan teori organisasi, komunikasi publik, semiotika Behavioral dan fungsional berkembang ini dianggap sebagai alat perekat komunikasi, dan sebagainya dari ilmu sosial dan ilmu-ilmu lainnya masyarakat (the glue of society). Fokus yang cenderung memusatkan struktur pengamatan teori ini tidak pada terhadap Dua karakteristik umum pada teori ini sosial dan budaya. Sementara teori-teori struktur, tetapi tentang bagaimana behvioral dan kognitif berkembang dari bahasa dan simbol-simbol lainnya psikologi dan ilmu-ilmu behavioral direproduksi , dipelihara, serta diubah 1. Penekanan terhadap peran lainnya yang cenderung memusatkan dalam penggunaannya. subjektivitas yang didasarkan pengamatan pada diri manusia secara pada pengalaman individu individual. Salah satu konsep pemikiran yang terkenal adalah Model S-R 2. Makna atau meaning (Stimulus Respon)Te Teori Kontekstual Teori Agenda Setting Teori informasi organisasi Agenda-setting diperkenalkan oleh Seperti dijelaskan oleh Sendjaja Teori informasi organisasi merupakan salah McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi (2002:1.25) dalam Bungin (2006: 252), satu teori komunikasi yang membahas teori ini adalah bahwa jika media memberi berdasarkan konteks atau tingkatan mengenai pentingnya penyebaran informasi tekanan pada suatu peristiwa, maka media analisisnya, teori komunikasi secara dalam organisasi untuk menjaga itu akan mempengaruhi khalayak untuk umum dapat dibagi dalam lima konteks kelangsungan hidup organisasi tersebut. Teori menganggapnya penting. Jadi apa yang atau tingkatan: ini menekankan proses dimana individu dianggap penting media, maka penting mengumpulkan, mengelola, dan juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media menggunakan informasi. (1) komunikasi intra-pribadi diasumsikan memiliki efek yang sangat (intra-personal kuat, terutama karena asumsi ini communication); berkaitan dengan proses belajar bukan Teori informasi organisasi memiliki sejumlah dengan perubahan sikap dan pendapat. asumsi dasar, yaitu (2) komunikasi antarpribadi (interpersonal Organisasi manusia ada dalam sebuah communication); Teori The Spiral of Silence lingkungan informasi. Asumsi ini menyatakan bahwa organisasi bergantung pada informasi Teori the spiral of silence (spiral agar dapat berfungsi dengan efektif dan (3) komunikasi kelompok (group keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth mencapai tujuan mereka. Informasi yang communication); Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan diterima sebuah organisasi berbeda dalam hal pertanyaan bagaimana terbentuknya ketidakjelasannya. Ketidakjelasan yang (4) komunikasi organisasi pendapat umum. Teori ini menjelaskan dimaksud disini adalah ambiguitas dalam hal (organizational bahwa terbentuknya pendapat umum informasi yang diterima oleh organisasi. communication); ditentukan oleh suatu proses saling Organisasi manusia terlibat di dalam mempengaruhi antara komunikasi massa, pemrosesan informasi untuk mengurangi komunikasi antar pribadi, dan persepsi ketidakjelasan informasi. Dalam upaya (5) komunikasi massa (mass individu tentang pendapatnya dalam mengurangi ambiguitas tersebut, organisasi communication). hubungannya dengan pendapat orang- mulai melakukan aktivitas kerja sama untuk orang lain dalam masyarakat. membuat informasi yang diterima dapat dipahami dengan baik.
•    2. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa Teori disonansi kognitif Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball- merupakan sebuah teori komunikasi yangRokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh membahas mengenai perasaanmemfokuskan pada kondisi struktural suatu Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkanmasyarakat yang mengatur kecenderungan ini mengatakan bahwa pengguna media oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidakterjadinya suatu efek media massa. Teori ini memainkan peran aktif untuk memilih dan konsisten dan memotivasi seseorang untukberangkat dari sifat masyarakat modern, menggunakan media tersebut. Dengan kata mengambil langkah demi mengurangidiamana media massa diangap sebagai sistem lain, pengguna media adalah pihak yang aktif ketidaknyamanan tersebut. Teori disonansiinformasi yang memiliki peran penting dalam dalam proses komunikasi. Pengguna media kognitif memiliki sejumlah anggapan atauproses memelihara, perubahan, dan konflik berusaha mencari sumber media yang paling asumsi dasar diantaranya adalah:pada tataran masyarakat,kelompok, dan baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya.individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas Artinya pengguna media mempunyai pilihankajian terhadap efek tersebut dapat Manusia memiliki hasrat akan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.dirumuskan dapat dirumuskan sebagai adanya konsistensi padaberikut: keyakinan, sikap, dan perilakunya. Elemen dasar yang mendasari pendekatan Teori ini menekankan sebuah teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): (1)1. Kognitif, menciptakan atau menghilangkan model mengenai sifat dasar dari Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinyaambiguitas, pembentukan sikap, agenda- manusia yang mementigkan dengan (2) berbagai kombinasi antara intrasetting, perluasan sistem keyakinan adanya [stabilitas] dan dan ekstra individu, dan juga dengan (3)masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai. [konsistensi]. struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan (4) berbagai percampuran2. Afektif, menciptakan ketakutan atau Disonansi diciptakan oleh personal individu, dan (5) persepsi mengenaikecemasan, dan meningkatkan atau inkonsistensi biologis. Teori ini solusi bagi persoalan tersebut, yangmenurunkan dukungan moral. merujuk pada fakta-fakta harus menghasilkan (6) berbagai motif untuk3. Behavioral, mengaktifkan atau tidak konsisten secara psikologis mencari pemenuhan atau penyelesaianmenggerakkan atau meredakan, pembentukan satu dengan lainnya untuk persoalan, yang menghasikan (7) perbedaanisu tertentu atau penyelesaiannya, menimbulkan disonansi kognitif. pola konsumsi media dan ( perbedaan polamenjangkau atau menyediakan strategi untuk Disonansi adalah perasaan tidak perilaku lainnya, yang menyebabkan (9)suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku suka yang mendorong orang untuk perbedaan pola konsumsi, yang dapatdermawan. melakukan suatu tindakan dengan memengaruhi (10) kombinasi karakteristik dampak-dampak yang tidak dapat intra dan ekstra individu, sekaligus akan diukur. Teori ini menekankan memengaruhi pula (11) struktur media danTeori Inokulasi/jarum suntik (Mc. Gure) seseorang yang berada dalam berbagai struktur politik, kultural, dan disonansi memberikan keadaan ekonomi dalam masyarakat.Teori ini mengasumsikan individu/kelompok yang tidak nyaman, sehingga iayang lemah terhadap pemahaman informasi akan melakukan tindakan untukberupa persepsi akan semakin mudah keluar dari ketidaknyamanandipengaruhi. Teori Inokulasi memberi tersebut.“vaksin” berupa informasi atau persepsi untuk Disonansi akan mendorong usahamenghindarkan individu untuk memperoleh konsonansi danterpengaruhi/menangkal pengaruh. usaha untuk mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.Teori Konstruksi sosial media massa Teori Proses selektif (selective processes theory) Teori ini merupan hasil penelitianGagasan awal dari teori ini adalah untuk lanjutan tentang efek media massa padamengoreki teori konstruksi sosial atas realitas Perang Dunia II, yang isinya menyatakanyang dibangun oleh Peter L Berrger dan bahwa penerimaan selektif media massaThomas Luckmann (1966, The social mengurangi sejumlah dampak media. Teoriconstruction of reality. A Treatise in the ini menganggap bawha khalayak melakukansociology of knowledge. Tafsir sosial atas selective exposure (terpaan selektif), artinya,kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi mereka menolak pesan yang berbeda denganpengetahuan). Mereka menulis tentang kepercayaan mereka.konstruksi sosial atas realitas sosial dibangunsecara simultan melalui tiga proses, yaitu Menurut Joseph Klapper, melaluieksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. kajian penilitiannya pada 1960, pengaruhProses simultan ini terjadi antara individu satu media itu lemah, persentase pengaruhnyadengan lainnya di dalam masyrakat. kecil bagi pemilihdalam pemilihan umum,Bangunan realitas yang tercipta karena proses pasar saham, dan para pengiklan.sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dansimbolis atau intersubjektif.
•    3. Teori Peluru atau Jarum Hipodermik Teori Difusi Inovasi Individual Defferences Theory (Melvin DeFleur) Teori difusi yang paling terkemukaTeori ini mengasumsikan bahwa media Pesan-pesan yang disampaikan media massa dikemukakan oleh Everett Rogers dan paramemiliki kekuatan yang sangat perkasa dan koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yangkomunikan dianggap pasif atau tidak tahu ditangkap individu sesuai dengan kebutuhan menarik mengenai mengenai penyebaranapa-apa. Teori ini muncul pada 1950an oleh dengan proses perubahan sosial, di mana personal individu dan latar belakangWilbur Schram, kemudian dicabut kembali terdiri dari penemuan, difusi (ataupada tahun 1970an karena khalayak sasaran perbedaan tingkat pendidikan, agama, budaya, komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi.media massa ternyata tidak pasif. Hal ini Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara ekonomi sesuai dengan karakteristik. Efekdidukung oleh Lazarsfeld dan Raymond internal dari dalam kelompok atau secaraBauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa eksternal melalui kontak dengan agen-agen pesan pada individu akan beragam walaupunkhalayak yang ditterpa peluru tidak jatuh perubahan dari dunia luar. Kontak mungkinterjerembab (peluru tidak menembus, efek individu menerima pesan yang sama. terjadi secara spontan atau daritidak seuai dengan tujuan pnembak, sasaran ketidaksengajaan, atau hasil dari rencana Terdapat faktor psikologis dalam menerimasenang ditembak). Sedangkan Bauer bagian dari agen-agen luar dalam waktu yangmenyatakan bawa khalayak sebenarnya tidak pesan yang disampaikan media massa. bervariasi, bisa pendek, namun seringkalipasif (mencari yang diinginkan dari media memakan waktu lama.massa). Pada tahun 1960an, muncul teory Masing-masing individu mempunyai Dalam difusi inovasi ini, satu ide mungkinlimited effect model oleh Hovland. Dia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk perhatian, minat, keinginan yang berbedamenyatakan bahwa pesan komunikasi efektif dapat tersebar. Rogers menyatakan bahwadalam menyebarkan informasi, bukan untuk yang dipengaruhi faktor-faktor psikologis pada realisasinya, satu tujuan dari penelitianmengubah perilaku. Coooper dan Jahoda difusi adalah untuk menemukan sarana gunamenunjukan bahwa persepsi selektif yang ada pada diri individu tersebut sehingga memperpendek keterlambatan ini. Setelahmengurangi efektivitas suatu pesan. terselenggara, suatu inovasi akan mempunyai mempengaruhi dalam menerima pesan yang konsekuensi konsekuensi – mungkin merekaTeori dialektika relasional berfungsi atau tidak, langsung atau tidak disampaikan media massa. langsung, nyata atau laten (Rogers dalam Littlejohn, 1996 : 336).Teori dialektika relasional merupakan 36. Teori Social Category (DeFleur)sebuah teori komunikasi yang menyatakanbahwa hidup berhubungan dicirikan oleh Individu yang masuk dalam kategori sosialketegangan-ketegangan atau konflik antar 44. Uses and Gratificationindividu. Konflik tersebut terjadi ketika  Teori Uses and Grativifation tertentu/sama akan cenderung memilikiseseorang mencoba memaksakan dikemukakan oleh Katz dan prilaku atau sikap yang kurang lebih samakeinginannya satu terhadap yang lain. Teori Gurevitch (1959 )dialektika relasional memiliki asumsi pokok terhadap rangsangan-rangsangan tertentu.mengenai hidup berhubungan,  Bukan lagi melihat pada pengaruhyakni:Hubungan tidak bersifat linear. Non- Pesan-pesan yang disampaikan media massa media terhadap khalayak, tetapilinear yang dimaksud di sini adalah fluktuasi apa yang dilakukan khalayak cenderung ditanggapi sama oleh individuyang terjadi antara keinginan-keinginan yang terhadap media yang termasuk dalam kelompok sosialkontradiktif.  Konsep ini dibuktikan dengan tertentu. Penggolongan sosial ini berdasarkan 1. Otonomi dan keterikatan, merujuk studi dari Riley & Riley yang usia, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pada keinginan-keinginan yang menyatakan bahwa anak-anak selalu muncul untuk menjadi tidak ekonomi, agama dsb. tergantung pada orang-orang yang menggunakan cerita-cerita penting, dan juga untuk petualangan di telivisi untuk Dengan adanya penggolongan sosial ini menemukan kedekatan hubungan. berkhayal dan bermimpi. Hal ini muncullah media massa yang sifatnya special Ketegangan dialektika merupakan mengindikasikan bahwa orang hal-hal yang berlangsung secara menggunakan media massa untuk atau khusus yang diperuntukan bagi kalangan terus-menerus, dan untuk tujuan-tujuan yang berbeda. tertentu, dengan mengambil mengatasinya terdapat empat strategi dasar yang dapat Teori Uses and Gratifications ini pada segmentasi/pangsa pasar tertentu. Sebagai. ditempuh, yakni pergantian hakekatnya; bersiklus, segmentasi, seleksi, dan  Untuk menjelaskan bagaimana integrasi. Kelebihan teori ini individu menggunakan adalah heurisme. Teori ini komunikasi massa untuk memberikan pandangan yang luas memenuhi kebutuhannya. terhadap hubungan dan telah menjadi bahan lintas bidang ilmu. Sedangkan, kekurangannya  Untuk “menjelajahi” motivasi terletak pada kemungkinan individu dalam penggunaan media. pengujiannya dalam mengatasi berbagai hubungan dan sifatnya Mengidentifikasikan konsekuensi positif dan yang terlalu parsimoni. negatif bagi individu pada penggunaan media
•    4. Teori efek moderat media massa 38. Cultural Norms Theory (Norma  Teori efek moderat ini merupakan Budaya) – (DeFleur)Teori pelanggaran :harapan merupakan hasil penelitian tentangsalah satu teori komunikasi yang komunikasi di tahun tujuhmenggambarkan bahwa seseorang memiliki puluhan.harapan terhadap jarak perilaku non-verbal Media massa menyampaikan informasi  Dasar asumsi teori efek moderatorang lain yang dapat memberikan ini adalah pertama, model efek dengan cara-cara tertentu dapat menimbulkankenyamanan kepadanya. Teori ini melihat terbatas terlalu mengecilkankomunikasi sebagai pertukaran informasi kesan yang oleh khalayak disesuaikan dengan pengaruh komunikasi massa. Iniyang dapat dianggap positif atau negatif berarti bahwa pada situasi tertentu norma-norma dan nilai-nilai budayanya.tergantung pada rasa suka atau harapan antara komunikasi massa dapatdua orang yang berinteraksi. mempunyai pengaruh yang Pesan media mampu mengubah norma-norma pentingHubungan ruang yang dimaksud di sini  kedua, pengaruh efek terbatas budaya yang telah ada/berlaku dalamadalah ruang personal yang menunjukkan hanya melihat efek media pada masyarakat.jarak yang dipilih untuk diambil oleh tingkat sikap dan pendapat,seseorang dalam berhadapan dengan orang sedangkan sesungguhnya masih a. Memperkuat normalain. Jarak tersebut dapat dibedakan menjadi 4 ada variabel lain yang dapat b. Mengubah normazona yakni: menjadi faktor pengaruh dan dampak dari media massa c. Menciptakan norma baru.  1. Jarak intim mencakup perilaku 42. Teori spiral kebisuan (spiral of silence) yang ada pada jarak 0-18 meter.  Spiral kebisuan dikembangkan Teori penanaman atau cultivation 2. Jarak personal mencakup oleh Elizabeth Noelle-Neumann. theory perilaku yang ada pada jarak Teori ini berpendapat bahwa ini berasal dari penelitian Gerbner 46cm-1,2 meter. media memiliki efek yang sangat tentang pola menonton televisi di 3. Jarak sosial mencakup perilaku kuat dalam membentuk opini Amerika Serikat. yang ada pada jarak 1,2-3,6 meter. publik. Penelitian Gerbner menemukan 4. Jarak publik merupakan jarak  Menurut teori spiral kebisuan, ada bahwa rata-rata penduduk yang cakupannya melampaui 3,7 tiga karakteristik komunikasi Amerika Serikat menonton televisi meter. massa yang dapat berpengaruh kurang lebih 4-5 jam sehari. pada opini publik, yaitu kumulasi Mereka yang menonton lebih dariTeori pelanggaran harapan memiliki tiga (cummulation) atau penimbunan; waktu tersebut disebut sebagaiasumsi dasar, yakni: ubiquitas (ubiquity): keberadaan penonton berat atau heavy viewers. media yang selalu ada dimana- Sedangkan mereka yang menonton mana; dan konsonansi kurang dari jam tersebut disebut 1. Harapan mendorong terjadinya (consonance) atau persesuaian dengan light viewers interaksi antar manusia. Sebelum antara apa yang disampaikan Efek dari seluruh terpaan pada seseorang melakukan interaksi media massa dengan opini publik pesan yang diproduksi inilah yang dengan orang lain, seseorang  Media massa memainkan peran disebut Gerbner sebagai teori memiliki harapan interaksional penting, sebab media berfungsi kultivasi (cultivation), dimana yang mencakup keahlian dan sebagai sumber informasi, dimana televisi mengajarkan pandangan pengetahuan yang dibutuhkan oleh orang mencari distribusi opini dunia secara umum, peran-peran komunikator sebelum ia memasuki publik. Media massa dapat umum dan nilai-nilai umum. sebuah percakapan[Harapan mempengaruhi spiral kebisuan terhadap perilaku manusia dengan tiga cara, yaitu satu, media dipelajari. membentuk kesan-kesan tertentu 2. Orang membuat prediksi mengenai tentang opini mana yang dominan; perilaku nonverbal. Ketika dua, media membentuk kesan- seseorang berhadapan dengan kesan tertentu tentang opini yang orang lain, sebenarnya seseorang sedang naik atau berkembang; dan mampu untuk membuat prediksi ketiga, media membentuk kesan perilaku non-verbal yang muncul tentang opini yang mutlak dari orang tersebut. diperhatikan khalayak tanpa menampilkannya secara khusus. Ruang lingkup terhadap teori ini  Istilah spiral kebisuan diberikan terlalu luas karena komunikasi didasarkan pada logika bahwa non-verbal adalah area yang semakin tersebar opini yang sangat luas. dominan oleh media massa dalam masyarakat maka semakin senyap Kemungkinan pengujian pula suara perseorangan yang merupakan kemampuan teori ini bertentangan dengan opini untuk dapat dibuktikan kebenaran mayoritas tersebut atau kesalahannya. Akan tetapi, kenyataannya teori ini hanya sebatas memprediksi respon terhadap pelanggaran norma- norma suatu hubungan.
•    5. Teori efek terbatas media massa  Teori komunikasi massa yang Teori Ketergantungan (Dependency menekankan pada kekuatan media Theory) untuk mengubah perilaku ini pada Teori ketergantungan terhadap media mula- beberapa dekade berikutnya mulai mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach mendapat beberapa kritikan. dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and  Penelitian-penelitian yang gratifications, pendekatan ini juga menolak dilakukan membuktikan bahwa asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. sesungguhnya media massa Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang memiliki efek yang kecil dalam ini mengambil suatu pendekatan sistem yang mengubah perilaku. lebih jauh. Di dalam model mereka mereka  Hal ini ditunjukkan oleh penelitian mengusulkan suatu relasi yang bersifat dari Carl I. Hovland mengenai integral antara pendengar, media. dan sistem efek film pada militer yaitu bahwa sosial yang lebih besar. proses komunikasi massa hanyalah Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori melakukan transfer informasi pada uses and gratifications, teori ini khalayak dan bukannya mengubah memprediksikan bahwa khalayak tergantung perilaku sehingga perubahan yang kepada informasi yang berasal dari media terjadi hanyalah sebatas pada massa dalam rangka memenuhi kebutuhan kognisi saja. khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan  Terbatasnya efek komunikasi tertentu dari proses konsumsi media massa. massa hanya pada taraf kognisi Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak dan (afeksi) ini menyebabkan teori tidak memiliki ketergantungan yang sama aliran baru ini disebut sebagai terhadap semua media. limited effect theory atau teori efek Sumber ketergantungan yang kedua adalah terbatas. kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem Konsep tentang teori efek terbatas media dan institusi sosial itu saling ini dikukuhkan melalui karya berhubungan dengan khalayak dalam Klapper, The Effects of Mass menciptakan kebutuhan dan minat. Pada Communication (1960). gilirannya hal ini akan mempengaruhi Klapper menyatakan bahwa proses khalayak untuk memilih berbagai media, komunikasi massa tidak langsung sehingga bukan sumber media massa yang menuju pada ditimbulkannya efek menciptakan ketergantungan, melainkan tertentu, melainkan melalui kondisi sosial. beberapa faktor (disebut sebagai Untuk mengukur efek yang ditimbulkan mediating factor) media massa terhadap khalayak, ada beberapa Faktor-faktor tersebut merujuk metode yang dapat digunakan, yaitu riset pada proses selektif berpikir eksperimen, survey dan riset etnografi. manusia yang meliputi persepsi selektif, terpaan selektif dan retensi (penyimpanan/memori) selektif. Ini berarti bahwa media massa memang punya pengaruh, tetapi bukanlah satu-satunya penyebab.

Thursday, 14 March 2013

Manfaat Shalat 5 Waktu

 

Keutamaan Shalat 5 Waktu
Shalat adalah ibadah yang agung, ibadah yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam, dan dia adalah ibadah yang terpenting setelah kedua kalimat syahadat. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (HR. Al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 19)
Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Rabbnya, karena ketika shalat hamba sedang berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla guna berdoa kepada-Nya. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam beliau bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ: { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ: { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ: { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka shalatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna” Tiga kali. Ditanyakan kepada Abu Hurairah, ” Kami berada di belakang imam?” Maka dia menjawab, “Bacalah Ummul Qur’an dalam dirimu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’ Maka Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Pemilik hari kiamat.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiku.’ Selanjutnya Dia berkata, ‘HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan.’ Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’. Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’ Allah berkata, ‘Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta.” (HR. Muslim no. 598)
Shalat lima waktu mempunyai beberapa keistimewaan dibandingkan semua ibadah wajib lainnya, di antaranya:
a.    Shalat 5 waktu merupakan ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam secara langsung tanpa perantara malaikat. Berbeda halnya dengan kewajiban lainnya yang diwajibkan melalui perantara malaikat.
b.    Shalat 5 waktu diwajibkan di langit sementara kewajiban lainnya diwajibkan di bumi.
Karenanya sangat pantas kalau shalat 5 waktu dikatakan sebagai ibadah badan yang paling utama.
Selain dari keistimewaan di atas, shalat 5 waktu secara umum dan beberapa shalat di antaranya secara khusu mempunyai keutamaan yang lain, di antaranya:
a.    Shalat 5 waktu akan menghapuskan semua dosa dan kesalahan.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 342)
Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.” (HR. Muslim no. 335)
Pada kedua hadits di atas dikecualikan dosa-dosa besar, karena memang dosa besar tidak bisa terhapus dengan sekedar amalan saleh, akan tetapi harus dengan taubat dan istighfar. Karenanya, yang dimaksud dengan dosa pada kedua hadits di atas adalah dosa-dosa kecil.
Adapun patokan dosa besar adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma:
اَلْكَبَائِرُ كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ الله ُبِنَارٍ أَوْ لَعْنَةٍ أو غَضَبٍ أَوْ عَذَابٍ
“Dosa-dosa besar adalah semua dosa yang Allah akhiri dengan ancaman neraka atau laknat atau kemurkaan atau adzab.” (Riwayat Ibnu Jarir dalam tafsirnya terhadap surah An-Najm: 32)
Walaupun asalnya ada perbedaan antara dosa besar dengan dosa kecil, akan tetapi beliau radhiallahu anhu juga pernah berkata:
لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ, وَلاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ
“Tidak ada dosa besar jika selalu diikuti dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dia dilakukan terus-menerus.”
b.    Shalat subuh senantiasa dihadiri dan disaksikan oleh para malaikat dan dia juga menja
Allah Ta’ala berfirman:
أقم الصلاة لدلوك الشمس إلى غسق الليل وقرءان الفجر إنّ قرءان الفجركان مشهودا
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra`: 78)
c.    Shalat ashar yang merupakan shalat wustha -sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari- dikhususkan penyebutannya dibandingkan shalat-shalat lainnya.
Dan ini menunjukkan keistimewaan shalat ashar -dari satu sisi- dibandingkan shalat lainnya. Allah Ta’ala berfirman:
حافظوا على الصلوات والصلواة الوسطى
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.” (QS. Al-Baqarah: 238)
d.    Menjaga shalat subuh dan ashar merupakan sebab terbesar masuk surga dan selamat dari neraka.
Dari Imarah bin Ru’aibah radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (HR. Muslim no. 1003)
Dari Abu Musa radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa mengerjakan shalat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk surga.” (HR. Al-Bukhari no. 540 dan Muslim no. 1005)
Dari Jundab bin Abdullah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Barangsiapa shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah, oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu dari kalian sebagai imbalan jaminan-Nya, sehingga Allah menangkapnya dan menyungkurkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 1050)
Dari Jarir bin ‘Abdullah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahri dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 521 dan Muslim no. 1002)

e.    Meninggalkan shalat 5 waktu -atau salah satunya- dengan sengaja karena malas secara terus-menerus adalah kekafiran.
Allah Ta’ala berfirman:
وخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غيا إلا من تاب وآمن وعمل صالحا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)
Seandainya orang yang meninggalkan shalat itu masih mukmin, maka tentunya tidak dipersyaratkan ketika dia bertaubat dia harus beriman.
Ini dipertegas dalam hadits Jabir radhiallahu anhuma dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ
“Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 116)
Juga dalam Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ تَرْكُ الصَّلَاةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“(Pemisah) di antara kami dan mereka (orang kafir) adalah meninggalkan shalat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 21929)

Biodata

Nama saya Anis Setyaningsih saya anak pertama dari 2 bersaudara saya lahir di YOGYAKARTA pada tanggal 02-agustus-1994 saya berada di jogja bahasa akrabnya hanya selama kurang lebih 3thn kemudian orangtua saya memutuskan untu kejakarta dan menetap. saya tumbuh besar dijakarta hingga saat ini lika-liku kehidupan sudah saya alami. Pernah bersekolah tk di jogja, SDN 011 pagi jakarta selatan, SMPN 40 (RSBI) jakarta pusat, SMAN 7 jakarta pusat, Universitas Mercubuana Jakarta Barat. S1 Fakultas Ilmu Komunuikasi (FIKOM),

Tawuran Antar Pelajar

TAWURAN ANTAR PELAJAR


Tawuran pelajar saat ini sudah menjadi momok bagi masyarakat. Prilaku tawuran pelajar bukan hanya mengakibatkan kerugian harta benda atau korban cedera tapi sudah merenggut ratusan nyawa melayang sia-sia selama sepuluh tahun terakhir.
Beberapa tahun lalu beberapa siswa dari sebuah sekolah swasta ditangkap polisi karena membacok siswa SMK 5 Semarang. Mereka terancam dikeluarkan dari sekolah dan dihukum penjara. Wali Kota Sukawi Sutarip mendukung bila sekolah mengeluarkan siswa yang terlibat tawuran. Bahkan ia mengatakan, semua sekolah di Semarang tidak boleh menerima siswa itu lagi. Akankah tindakan represif semacam itu akan menyelesaikan masalah?
Maraknya tawuran pelajar dipicu oleh banyak faktor. Pada tingkat mikro, rendahnya kualitas pribadi dan sosial siswa mendorong mereka berprilaku yang tidak pronorma. Pada tingkat messo, buruknya kualitas dan manajemen pendidikan mendorong rasa frustasi anak yang dilampiaskan pada tindakan negatif, termasuk tawuran. Di tingkat makro, persoalan pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan hidup memberi sumbangan tinggi bagi terbentuknya masyarakat (termasuk siswa) yang merasa kehilangan harapan untuk hidup layak. Pembahasan pada artikel ini dibatasi pada bidang pendidikan.
Sekolah sebagai “Pembunuh” Siswa

Beragam “prestasi buruk” selama ini menghadapkan pendidikan pada pertanyaan mendasar tetapi sangat fundamental: sejauhmana efektivitas pendidikan bagi peningkatan kualitas siswa. Pertanyaan mendasar tersebut layak dikedepankan mengingat sumbangsih pendidikan bagi masyarakat belum terlihat secara kasat mata. Padahal “investasi” yang diserap dunia pendidikan sangat besar. Pendidikan belum berhasil menjadi solusi bagi kesejahteraan hidup manusia, tetapi sebaliknya: menciptakan masalah bagi masyarakat.
Salah satu masalah yang dihadapi pendidikan adalah kurikulum yang dianggap terlalu berat dan membebani siswa. Kuatnya campur tangan pemerintah dalam dunia pendidikan ditengarai pada dominannya pemerintah dalam penyusunan kurikulum. Di samping itu, banyak pihak yang ingin memasukan “kepentingannya” dalam kurikulum pendidikan. Departemen Koperasi ingin ada pelajaran tentang koperasi, pengusaha industri ingin ada pelajaran teknis kerja, serikat buruh ingin ada pelajaran tentang buruh. Akibatnya batok kepala siswa menjadi “keranjang sampah” bagi beragam kepentingan.
Banyaknya bidang kajian menjadikan substansi pengetahuan menjadi sedikit, tetapi terlalu montok. Akhirnya kita lupa, bahwa apa yang dipelajari siswa “tidak bermanfaat”. Sudah sumpeg, metode pembelajarannya pun represif. Modus pembelajaran yang monolog oleh guru terasa benar miskin makna. Yang dimaksud cerdas oleh guru adalah besarnya daya ingat siswa terhadap segudang informasi, seperti halnya ketangkasan cerdas cermat.
Pendidikan juga terlalu science minded. Ada siswa SMU yang setiap minggunya harus belajar matematika 10 jam dan fisika masing-masing 10 jam pelajaran. Seolah-olah matematika dan fisika merupakan satu-satunya jawaban dari persoalan hidup manusia. Jarang sekali ada sekolah yang mengembangkan pembelajaran sesuai potensi, minat, dan bakat siswa seperti olah raga atau musik, misalnya.
Akibat kurikulum yang terlalu berat menjadikan sekolah sebagai “stressor baru” sebagai siswa. Disebut “baru” karena siswa sebenarnya sudah sangat tertekan akibat berbagai persoalan keluarga dan masyarakat (termasuk pengangguran dan kemiskinan). Akibatnya, siswa ke sekolah tidak enjoy tetapi malah stress. Siswa tidak menganggap sekolah sebagai aktivitas yang menyenangkan tetapi sebaliknya: membebani atau bahkan menakutkan. Akibatnya, siswa lebih senang keluyuran dan kongkow-kongkow di jalan-jalan daripada mengikuti pelajaran di sekolah. Ada joke yang akrab di masyarakat, sekolah sudah menjadi “pembunuh nomor satu” di atas penyakit jantung.
Siswa bukan hanya terbunuh secara fisik karena tawuran, tetapi juga terbunuh bakat dan potensinya. Banyak talenta siswa yang semestinya bisa dikembangkan dalam bidang olahraga, seni, bahasa, atau jurnalistik, hilang sia-sia akibat “mabuk” belajar fisika dan matematika.
Seorang kawan secara berkelakar mengatakan lebih enak bekerja daripada sekolah. Orang bekerja mulai pukul 9 sampai 4 sore (7 jam), selama 5 hari perminggu. Sedangkan siswa masuk sekolah pukul 7 sampai 13.30 (6,5 jam), hampir sama dengan orang bekerja. Tetapi ingat malam hari siswa harus belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah, serta masuk 6 hari perminggu.
Bagaimana mengatasi kurikulum dianggap overload ini? Karena sudah “terlanjur”, pendidikan harus berani meredefinisi semua programnya. Tetapi, sanggupkah para penentu kebijakan melakukan perombakan? Itulah masalahnya. Banyak pengelola pendidikan bermental “priyayi”. Mereka lebih memikirkan kenaikan pangkatnya daripada peningkatan kualitas pendidikan. Budaya “cari muka” dan “minta petunjuk” membuat mereka tidak berani melakukan perubahan. Sebab, mereka tidak mau mempertaruhkan kenaikan pangkatnya. Lebih baik “adem ayem” kenaikan pangkat lancar daripada “kritis” tetapi terancam.
Sekolah yang Menyenangkan
Saat ini mulai berkembang paradigma baru tentang “pendidikan yang menyenangkanE2��, seperti model quantum learning. Dalam quantum learning pelajaran sekolah tidak menjadi beban bagi siswa. Pendidikan disesuaikan dengan ranah berpikir siswa. Jadi bukannya siswa yang “dipaksa” mengikuti pelajaran sesuai kemauan guru, termasuk dalam hal penilaian benar-salah. Guru yang harus “masuk” ke dalam ranah berpikir siswa, menyelami apa pemikiran, kehendak, dan jiwa siswa. Dalam quantum learning, guru tidak bisa dengan otoriter memaksakan pendapatnya paling benar. Tetapi siswa dilibatkan untuk mengkaji kebenaran nilai-nilai itu dan perbedaan pendapat tidak dilarang. Selama ini kan tidak. Aturan yang dibuat sekolah bernilai mutlak. Siswa tidak punya kewajiban lain selain patuh. Kalau tidak patuh maka dianggap “melanggar peraturan” sehingga wajib diberi sanksi. Tidak ada hak bagi siswa untuk mengemukakan pendapat bahwa setiap aturan mesti tergantung pada konteksnya, termasuk konteks pemikiran siswa. Akibatnya, siswa patuh karena “pura-pura”.
Selain quantum learning, dipelopori David Golemen, para pemerhati pendidikan di Barat mulai menyadari bahwa kecerdasan emosional (EQ) tidak kalah penting dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Bahkan menurut penelitian David Goleman, siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, setelah dewasa justru lebih banyak yang “berhasil” dibanding siswa yang memiliki IQ tinggi. Paradigma baru ini hendaknya juga mulai diadopsi di Indonesia.
Kecerdasan emosional siswa meliputi kemampuan mengembangkan potensi diri dan melakukan hubungan sosial dengan manusia lain. Beberapa tolok ukurnya adalah: memiliki pengendalian diri, bisa menjalin relasi, memiliki sifat kepemimpinan, bisa melobi, dan bisa mempengaruhi manusia lain.
Siswa yang kecerdasan emosionalnya tinggi memiliki “beragam alternatif bahasa” untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan manusia lain, termasuk dengan seseorang yang “dianggap musuh”. Sebaliknya, siswa yang kecerdasan emosionalnya rendah hanya memiliki satu bahasa: takut atau justru sebaliknya, tawur. Mereka juga tidak bisa “membedakan” musuh. Tolok ukur seseorang dianggap “kawan” atau “musuh” adalah seragamnya. Siapapun dia, asalnya darimana, kalau memakai seragam sekolah “lawan” harus dimusuhi.
Seragam sekolah menjadi sumber masalah. Meski tujuannya baik yakni untuk melatih kedisplinan, tetapi juga membawa dampak negatif. Seragam sekolah menumbuhkan identitas kelompok yang memicu tawuran. Lagipula, penyeragaman seragam sekolah juga tidak bermanfaat. Malahan, rok siswi yang kadang terlalu mini juga mengundang masalah sendiri bagi siswa laki-laki.Sebaiknya siswa tidak diwajibkan mengenakan seragam.
Itulah beberapa tawaran untuk mengurangi tawuran pelajar. Kalau usaha tersebut telah diikhtiarkan tetapi tawuran pelajar makin menggejala, artinya kita perlu berikhtiar lebih keras lagi. Justru itulah makna hakikat pendidikan: terus berusaha dan tak kenal menyerah.

Sosiologi Komunikasi

Pengertian Sosiologi Komunikasi
dahulu mengenai konsep-konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep sosiologi, masyarakat dan komunikasi. Sosiologi. Konsep-konsep tersebut merupakan konsep penting yang kemudian melahirkan studi-studi integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan studi-studi interelasi yang penting untuk dibicarakan disini sekaligus sebagai ruang lingkup dalam studi-studi sosiologi komunikasi.
1.1. Sosiologi
(Selengkapnya baca artikel tentang Sosiologi)
Asal kata Sosiologi adalah berasal dari kata sofie, yaitu bercocok tanam atau bertanam, kemudian berkembang menjadi Socius (bhs. Latin) yang berarti teman, kawan. Bearkembang lagi menjadi kata sosial yang berartiberteman, bersama, berserikat. Kata sosial secara khusus adalah hal-hal mengenai berbagai kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu bermaksud untuk mengerti kejadian-kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama.
Dengan kata lain menurut Hassan Shadily, Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakatnya masyarakatnya ), dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agamanya, tingkah laku serta keseniannya atau yang disebut kebudayaan yang meliputi segala segi kehidupannya.
Pitirim Sorokin mengemukakan: sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
•    hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik dan lain sebaginya);
•    hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya );
•    ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.
William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
Prof. DR. Selo Soemardjan dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi mendefinisikan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
(Selengkapnya baca artikel tentang Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli)
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, hubungan antara masyarakat dan akibat dari hubungan tersebut. Karena sosiologi objeknya adalah masyarakat maka cakupan dari objek sosiologi itu adalah individu, kelompok, dan masyarakat. Proses hubungan inilah yang biasa disebut dengan istilah interaksi sosial.
Dengan melihat pengertian sosiologi dan objek sosiologi tersebut maka dapat disimpulkan sosiologi mempunyai fungsi:
1.    Berusaha untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat.
2.    Mendapatkan fakta-fakta masyarakat yang mungkin dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masyarakat.
3.    Sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada interaksi manusia.
1.2. Masyarakat
Menurut Ralph Linton,  masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
Selo Soemardjan menyatakan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
Pengertian manusia yang hidup bersama dalam ilmu sosial tidak mutlak jumlahnya, bisa saja dua orang atau lebih, tetapi minimal adalah dua orang. Manusia tersebut hidup bersama dalam waktu cukup lama, dan akhirnya melahirkan manusia-manusia baru yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Hubungan antara manusia itu, kemudian melahirkan keinginan, kepentingan, perasaan, kesan, penilaian dan sebagainya. Keseluruhan itu kemudian mewujudkan adanya system komunikasi dan suatu kesatuan sosial peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dalam masyarakat tersebut. Dalam system hidup tersebut, maka muncullah budaya yang mengikat antara satu manusia dengan lainnya.
1.3. Komunikasi
(Selengkapnya baca artikel tentang Pengertian Sosiologi Komunikasi)
Berikut adalah pengertian komunikasi menurut beberapa ahli. Beberapa teori yang dikemukakan dalam buku Teori Komunikasi antara lain dari:
•    Anderson: Komunikasi adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku.
•    Margarete Mead: Interaksi, juga dalam tingkatan biologis, adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpa komunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi.
•    Barnlund: Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
•    Berelson dan Steiner: Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
•    Onong Uchyana : Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran, atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul kepastian, keraguan. Kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
2. Sejarah Sosiologi Komunikasi
2.1. FIlsafat Sosial
Pada mulanya kajian tentang komunikasi, apalagi ilmu komunikasi adalah sesuatu yg tidak pernah ada dalam khazanah ilmu pengetahuan. Ketika pada mulanya semua masalah manusia masih dalam kajian filsafat, maka komunikasi selain tidak terpikirkan atau belum dipikirkan oleh manusia (laten fenomena).
Pada saat teori sosilogi sedang dibangun, minta terhadap ilmu pengetahuan meningkat pesat, hal itu terjadi tidak saja diperguruan tinggi, namun juga di masyrakat umumnya. Hasil sains termasuk teknologi mendapat apresiasi yang luar biasa di masyarakat. Walaupun dikatakan apresiasi itu berkaitan dengan sukses besar sains fisika, bilogi dan kimia (ritzer, 2004). Perdebatan antara perkembangan sosiologi dan sains pada saat itu menjadi hal yang penting disinggung dalam bagian awal ini untuk mendudukkna persoalan bahwa pada awal perkembangan teori sosiologi, sosiologi dibesarkan oleh minat masyarakat terhadap sains yang menginginkan sosiologi meniru kesuksesan sains atau karena kesuksesan sains pada saat itu yang mengalihkan perhatian masyarakat terhadap sosiologi. Rupanya, pada akhirnya masyarakat kemudian percaya bahwa perkembangan sosiologi disebabkan karena adanya keunggulan pemikiran yang lebih menyukai sosiologi sebagai sains.
Banyak pengamat yang berpendapat bahwa perkembangan teori sosiologi dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran abad pencerahan yang berkembang pada peeriode perkembangan intelektual dan pembahasan pemikiran filsafat yang luar biasa. Pemikiran manusia yang pada awalnya menaruh harapan yang besar terhadap mitos (sebelum yunani kuno atau sebelum 600 SM), logos (yunani kuno atau 600 SM), dogma ( dan kemudian beralih pada logos (pikiran manusia lagi)
2.2 Sosiologi Modern
Persoalan manusia pada akhirnya diatasi filsafat melalui pendekatan filsafat, melalui pendekatan filsafat sosial yang kemudian mampu menjawab persoalan-persoalan: liberalisme, sosialisme, komunalisme dan welfareliberalism, namun untuk menjawab persoalan-persoalan kemasyarakatan lainnya yang lebih konkret, filsafat sosial mengalami hambatan metodelogis. Karena itu banyak persoalan masyarakat lainnya yang lebih kongkret, filsafat sosial mengalami hambatan metodelogis. Karena itu banyak persoalan masyarakat tidak bisa lagi diatasi filsafat sosial yang sifat pendekatannya abstrak dan tidak konkret. Masyarakat membutuhkan jalan keluar dari permasalahan kehidupan mereka yang serba spesifik dan konkret. Dengan demikian, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan yang menjebatani filsafat dan manusia. Karena itulah lahir sosiologi sebagai jalan keluar untuk membantu manusia memecahkan persoalan masyarakat.
Orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi adalah auguste comte (1798-1852). Erikson (ritzer,2004: 16) mengatakan bahwa, menurut Erikson bukanlah penemu sosiologi modern, karena selain teori sosiologi konservatif banyak dipelajari oleh gurunya Cloude Henri Saint-Simon(1760-1852), adam smith atau para moralis skotlandia adalah sumber sebenarnya dari sosiologi modern,
Pikiran-pikiran comte juga dipengaruhi oleh pencerahan dan revolusi, ia juga sangat terpengaruh oleh sains sehingga pandangan ilmiahnya memperkenalkan “positivisme” atau “filsafat positif”. Lebih kongkret lai comte mengembangkan fisika sosial yang pada tahun 1839 disebut dengan sosiologi (pickering, 2000 dalam Rizter, 2004: 16). Penggunaan istilah filsafat sosial, pada mulanya comte bermaksud agar sosiologi meniru model hard science. Ilmu baru ini memepelajari social statics ( statistika sosial atau struktur sosial) dan social dynamic (dinamika sosial atau perubahan sosial).
Pikiran-pikiran comte pada waktu itu didasarkan pada pendekatan teori revolusinya dan hukum tiga tingkatan( Rizter, 2004:17) comte mengatakan ada tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui kelompok masyarakat, ilmu pengetahuan, individu, atau bahkan pemikiran masyarakat dan dunia sepanjang. sejarahnya pertama, tahap teologis Yang menjadikan karakteristik dunia sebelum era 1300. Dalam tahapan ini sistem gagasan utama menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan adikodrati, tokoh agama dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar segala hal. Dengan demikian, dunia sosial dan alam fisika adalah ciptaan tuhan. Kedua, tahap metafisika yang terjadi antara 1300-1800. Era ini ditandai dengan keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukanlah para dewa. Dengan demikian pandangan terhadap ciptaan tuhan mengalami degradasi kekuasaan dihadapan manusia. Ketiga tahun 1800 dunia memasuki tahap positivistik yang ditandai oleh keyakinan terhadap sains. Manusia mulai cenderung menghentikan penelitian terhadap kecenderungan penyebab absolut (tuhan atau alam) dan memusatkan perhatian pada pengamatan terhadap alam fisik dan dunia sosial guna mengetahui hukum-hukum yang mengaturnya.
Orang lain yang berjasa pada awal perkembangan sosiologi adalah Emile Durkheim (1858-1917). Karya-karya Durkheim masih diwariskan oleh pandangan pencerahan pada sains dan reformasi sosial. Pandangannya tentang faktor-faktor sosial menjadi dasar bagi sosiologi untuk mengkaji pandangan tentang apa sebenarnya fakta sosial itu. Dalam bukunya yang berjudul The Rule of Sosiological Method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari fenomena penting dalam kehidupan manusia dalam dunianya yaitu fakta-fakta sosial. Ia memendang bahwa fakta sosial adalah sebagai kekuatan (force) dan struktur yang bersifat eksternal yang memaksa individu . memlalui karyanya yang lain, yaitu Suicide (1897/1951) Durkheim mencoba menguji pandangan sosiologisnya tentang hubungan sosial dan fakta sosialnya (Rizter, 2004:21).
Melalui The Rule of sociological Method Durkhaim membedakan dua tipe fakta sosial, yaitu fakta sosial materiil dan fakta sosial nonmateriil (kultur, institusi sosial) ketimbang membahas fakta sosial materiil (birokrasi, hukum). Walaupun dia membahasnya secara bersama-sama namun Durkheim lebih banyak menyoroti fakta sosial non materiil ketimbang fakta sosial materiil.
Dalam hal agama Durkheim berpandangan bahwa agama adalah salah satu fakta sosial non materiil. Melalui karyanya yang terakhir, The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965), ia membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar agama. Ia yakin akan menemukan akar agama dengan jalan membandingkan masyarakat primitif yang sederhana ketimbang mencarinya di dalam masyarakat modern yang kompleks. Temuannya, bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri.
2.3. Lahirnya Sosiologi Komunikasi
(Selengkapnya baca artikel tentang Lahirnya Sosiologi Komunikasi)
Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara Claude Henry Saint-Simon, Auguste Comte, dan Emile Durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran Perancis.
Sejarah sosiologi komunikasi menempuh dua jalur. Kajian dan sumbangan pemikiran Auguste Comte, Talcott Parson dan Robert K. Merton merupakan sumbangan paradigma fungsional bagi lahirnya teori-teori komunikasi yang beraliran struktural fungsional. Sedangkan sumbangan-sumbangan pemikiran Karl Marx dan Habermas menyumbangkan paradigma konflik bagi lahirnya teori-teori kritis dalam kajian komunikasi.
Sosiologi sejak semula telah menaruh perhatian pada masalah-masalah yang ada hubungan dengan interaksi sosial antara seseorang dan orang lainnya. Apa yang disebut oleh Comte dengan ”Social Dynamic”, kesadaran Kolektif” oleh durkheim dan interaksi Sosial Oleh Marx serta ”tindakan komunikatif” dan ”teori komunikasi” oleh Habernas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi. Bahkan melihat kenyataan semacam itu, maka sebenarnya gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif struktural fungsional maupun dalam perspektif konflik.
Di bawah ini kita bisa lihat aliran pemikiran dalam paradigma sosiologi komuniksi komunikasi, dimana sosiologi sendiri sebenarnya telah mengkaji maslah komunikasi secara tidak langsung dalam teori-teorinya.

Selain apa yang disumbangkan Karl Marx dan Habermas mengenai teori kritis dalam komunikasi, sumbangan dari perspektif struktural fungsional dalam sosiologi yang diajarkan oleh Talcott Parson dalam teori sistem tindakan maupun dalam skema Agil, serta kajian Robert K. Merton tentang struktur fungsional, struktur sosial dan anomi, merupakan sumbangan-sumbangan yang amat penting terhadap lahirnya teor-teori komunikasi di waktu-waktu berikutnya.
3. Jenis-Jenis Sosiologi Komunikasi
(Selengkapnya baca artikel tentang Jenis-Jenis Sosiologi Komunikasi)
Komunikasi di dalam masyarakat dibagi atas 5 jenis:
1.    Komunikasi individu dengan individu (komuniksi antar pribadi)
2.    Komunikasi kelompok
3.    Komunikasi organisasi
4.    Komunikasi sosial
5.    komunikasi massa
Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium). Contohnya kegiatan percakapan surat menuyurat pribadi. Fokus pengamatannya adalah bentuk-bentuk dan sifat-sifat hubungan, percakapan, interaksi dan karakteristik komunikator.
Komunikasi kelompok, menfokuskan pembahasannya kepada interaksi diantara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Bahasan teoritis meliputi dinamika kelompok, efisiensi dan efektifitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interaksi, serta pembuatan keputusan.
Komunikasi organisasi menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasai melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasannya meliputi struktur dan dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia manusia, komunikasi dan proses pengorganisasisan, serta kebudayaan organisasi.
Komunikasi sosial menurut Astrid adalah salah satu bentuk komunikasi yang lebih intensif, dimana komuniksi terjadi secara langsung antar komunikator dan komunikan, sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial, melalui kegiatan ini terjadilah aktualisasi dari bergbagai masalah yang dibahas. Komunikasi sosial sekaligus suatu proses sosialisasi dan untuk pencapaian stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleg suatu masyarakat melalui komunikasi soaisl kesadaran masyarakat dipupuk, dibina dan diperluas. Melalui komunikasi sosial, masalah-masalah sosial dipecahkan melalui konsesus.
Pengertian komunikasi massa menurut MC. Quil adalah komunikasi yang berlangsung pada tingkat masyarakat luas. Pada tingkat ini komuniksi dilakukan dengan menggunakan media massa.
4. Konsep Sosiologi Komunikasi
Menurut Bungin (2006 : 27-31), sosiologi komunikasi terdiri dari 4 konsep yang sekaligus menjadi ruang lingkup sosiologi komunikasi. Ke-empat konsep tersebut yakni sosiologi, masyarakat, komunikasi, dan teknologi media/informasi.
4.1. Sosiologi
(Selengkapnya ada di bagian 1.1 di artikel ini)
Yang dimaksud dengan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial termasuk di dalamnya berbagai aktifitas atau gejala sosial yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan sosial.
4.2. Masyarakat
(Selengkapnya ada di bagian 1.2 di artikel ini)
Masyarakat merupakan salah satu ruang lingkup dari sosiologi komunikasi. Artinya bahwa masyarakat merupakan salah satu yang dibahas dalam sosiologi komunikasi. Apa itu masyarakat? Sebetulnya, masyarakat merupakan objek dari sosiologi. Masyarakat terdiri dari kumpulan orang-orang yang hidup berdampingan (hidup bersama) dalam suatu wilayah dan terikat oleh aturan-aturan atau norma-norma sosial yang mereka tentukan dan taati.
4.3. Komunikasi
(Selengkapnya ada di bagian 1.3 di artikel ini)
Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris disebut communication, berasal dari bahasa Latin, communicatio. Kata communicatio berasal dari kata communis yang artinya sama. Komunikasi terdiri dari 5 unsur yakni:
1.    Komunikator (pemberi informasi)
2.    Pesan
3.    Media (saluran)
4.    Komunikan (penerima informasi/pesan)
5.    Efek (pengaruh).
4.4. Teknologi Komunikasi, dan Informasi
Teknologi komunikasi merupakan ruang lingkup ketiga dari sosiologi komunikasi.  Berbicara komunikasi, apalagi komunikasi massa tidak bisa kita pisahkan dari persoalan teknologi komunikasi dan informasi. Teknologi komunikasi merupakan salah satu saluran/channel yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Apa itu teknologi komunikasi?
Menurut Alter (Bungin, 2006 : 30), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data.
Martin (Bungin, 2006 : 30) mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.
Berdasarkan definisi tersebut di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa teknologi komunikasi berhubungan erat dengan perangkat keras dan lunak yang dapat digunakan untuk memproses dan mengirimkan informasi.
5. Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi
Adapun ruang lingkup kajian sosiologi komunikasi adalah gejala, pengaruh dan masalah sosial yang disebabkan oleh komunikasi. Ruang lingkup kajian sosiologi, yaitu pengaruh atau akibat-akibat sosial yang terjadi atau ditimbulkan oleh komunikasi. Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana masalah sosial itu terjadi. Aspek komunikasi apa atau yang bagaimana yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut. Dan dalam bahasan mata kuliah sosiologi komunikasi ini akan difokuskan pada sosiologi komunikasi massa. Pada dasarnya antara penelitian dibidang komunikasi dengan sosiologi komunikasi tidak mempunyai hubungan yang langsung. Akan tetapi penelitian dibidang komunikasi mempunyai kecenderungan untuk melakukan penelitian tentang:
1.    Struktur, pusat perhatian, perilaku masyarakat yang menjadi sasaran komunikator, maksudnya bagaimana sesuatu peran itu disampaikan, ataupun apakah yang akan menjadi pusat perhatian penelitian tersebut.
2.    Efektifitas komunikasi massa, maksudnya sejauh mana pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh komunikasi massa.
3.    Efek-efek sosial dari komunikasi massa, maksudnya bagaimanakah pengaruh sosialdari komunikasi massa. Dan inilah sebenarnya yang menjadi salah satu bidang kajian sosiologi komunikasi massa.
Dengan memperhatikan lingkup kajian sosiologi komunikasi tersebut, maka kita dapat mengetahui bahwa komunikasi dengan media massa mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu, disamping itu berbagai aspek komunikasi lainnya dapat pula menimbulkan akibat-akibat atau pengaruh sosial lainnya, misalnya, sistem komunikasi dapat menimbulkan pengaruh sosiologis, unsur-unsur komunikasi dapat menimbulkan pengaruh sosiologis dsb. Gejala-gejala sosiologis yang terbentuk Dalam berbagai kemungkinan sbb:
1.    Suatu sistem komunikasi massa dapat menimbulkan pengaruh terhadap masyarakatnya, maksudnya, suatu sistem akan menentukan bagaimana suatu kegiatan itu akan dilaksanakan, sehingga hal ini juga mengandung suatu pengertian bahwa sistem komunikasi massa akan mempengaruhi masyarakatnya, misalnya sistem komunikasi massa komunis mempunyai pengaruh tertentu kepada masyarakatnya.
2.    Sistem komunikasi massa dapat menyampingkan media komunikasi tradisional yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
3.    Sistem komunikasi massa merupakan sarana yang kuat dan luwes untuk menpengaruhi masyarakat sehingga suatu sistem komunikasi massa dapat menimbulkan pengaruh sosiologis yang kuat.
4.    Sistem komunikasi massa dapat menimbulkan sikap dan pandangan yang seragam terhadap gejala sosial tertentu, maksudnya, sistem tersebut dapat mempengaruhi penilaian masyarakat mengenai suatu masalah sosial tertentu yang ditimbulkan oleh media komunikasi massa.
Sumber:
1. MODUL SOSIOLOGI KOMUNIKASI (pksm.mercubuana.ac.id)

2. sejarah sosiologi komunikasi (yuniswiss99.blogspot.com)

3. Hakekat dan Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi (petrusandung.wordpress.com)

4. Pengertian Sosiologi Komunikasi (id.scribd.com)

________________________________________